BAPAK SREGEP

DLH Kota Probolinggo Luncurkan Inovasi BAPAK SREGEP, Gerakan Kolaboratif Serap Emisi GRK Lewat Penanaman Pohon

PROBOLINGGO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo terus memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim melalui inovasi BAPAK SREGEP (Buat Atasi Perubahan Iklim dengan Menyerap Emisi Gas Rumah Kaca melalui Penanaman Pohon). Inovasi ini hadir sebagai gerakan kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga memastikan setiap pohon yang ditanam dipelihara, dipantau, dan dievaluasi sebagai bagian dari strategi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo, Agus Dwiwantoro, menjelaskan bahwa BAPAK SREGEP merupakan transformasi dari program penghijauan konvensional menjadi sebuah sistem mitigasi perubahan iklim yang terukur dan berkelanjutan.

"BAPAK SREGEP bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Melalui inovasi ini kami membangun sebuah sistem yang mengintegrasikan penentuan lokasi prioritas, penyediaan bibit sesuai karakteristik lahan, penanaman secara partisipatif, pendataan, pemeliharaan, monitoring, hingga evaluasi. Dengan demikian, setiap pohon yang ditanam benar-benar memberikan kontribusi nyata dalam menyerap emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup Kota Probolinggo," ujar Agus Dwiwantoro.

Lahirnya inovasi tersebut dilatarbelakangi meningkatnya tantangan perubahan iklim di Kota Probolinggo. Pertumbuhan kawasan perkotaan, meningkatnya aktivitas transportasi, serta berkurangnya tutupan vegetasi dinilai berdampak terhadap peningkatan emisi GRK, penurunan kualitas udara, dan kenaikan suhu lingkungan. Di sisi lain, program penghijauan sebelumnya dinilai belum terintegrasi dengan sistem pemeliharaan maupun pemantauan keberhasilan tanaman secara berkelanjutan.

Melalui BAPAK SREGEP, DLH Kota Probolinggo menerapkan tujuh tahapan pelaksanaan inovasi, yakni identifikasi lokasi prioritas penanaman, penyediaan bibit sesuai karakteristik lahan, penanaman pohon secara partisipatif, pendataan lokasi dan jumlah pohon, pemeliharaan serta penyulaman tanaman, monitoring pertumbuhan pohon, hingga evaluasi hasil dan pelaporan. Seluruh tahapan tersebut dirancang agar keberhasilan penanaman dapat diukur secara berkala dan menjadi dasar penyusunan kebijakan lingkungan hidup di masa mendatang.

Menurut Agus, kekuatan utama inovasi ini terletak pada kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah menggandeng dunia usaha, lembaga pendidikan, komunitas, hingga masyarakat agar gerakan penghijauan menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar kegiatan seremonial.

"Kami ingin membangun budaya menanam dan merawat pohon sebagai gerakan bersama. Ketika pemerintah, sekolah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat bergerak dalam satu tujuan, maka dampaknya akan jauh lebih besar terhadap peningkatan kualitas lingkungan maupun upaya pengendalian perubahan iklim," katanya.

Melalui inovasi ini, DLH menargetkan bertambahnya jumlah pohon yang ditanam dan dipelihara, meningkatnya luas tutupan vegetasi, bertambahnya kapasitas penyerapan emisi gas rumah kaca, meningkatnya kualitas udara, serta semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan. Selain itu, data penanaman pohon yang terdokumentasi diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis data dalam pengelolaan lingkungan hidup di Kota Probolinggo.

Keberlanjutan inovasi BAPAK SREGEP juga telah disiapkan melalui integrasi program ke dalam perencanaan dan penganggaran DLH Kota Probolinggo. Program ini diperkuat dengan kolaborasi bersama perangkat daerah, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat, disertai pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkala agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.



LINK TERKAIT